Penelitian sejarah dilakukan secara sistematis dengan 5 tahapan, yaitu Penentuan Topik, Heuristik, Verifikasi, Interpretasi, dan yang terakhir Historiografi.
1. Penentuan Topik
Langkah pertama yaitu memilih topik yang akan diteliti. Perlu kamu ketahui, topik dan judul adalah dua hal yang berbeda. Sebuah topik dapat menghasilkan beberapa judul, bersifat abstrak, dan cakupannya luas. Sedangkan satu judul hanya bisa dipakai dalam 1 penelitian sejarah, bersifat fokus, dan spesifik.
Contoh: Kamu ingin membuat buku dengan topik Perang Dunia II. Maka, alternatif judul penelitiannya bisa berupa ‘Penyerangan Jerman ke Kota Danzig’, ‘Serangan Pearl Harbor’, atau ‘Dampak Perang Dunia II terhadap Indonesia’.
Syarat Penentuan Topik
Syarat penentuan topik penelitian sejarah ada dua, yaitu kriteria dan kedekatan peneliti. Tapi, kamu hanya perlu memenuhi satu diantara keduanya, ya!
a. Kriteria Topik
Topik yang diteliti harus unik, bernilai, kesatuan, praktis, dan orisinil.
Unik, artinya dapat memancing keingintahuan pembaca lewat topik atau judul yang tertera.
Bernilai, artinya hasil penelitian tersebut bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat.
Kesatuan, artinya bahan atau sumber yang digunakan dalam penelitian harus sesuai dengan topik dan tidak melebar kemana-mana.
Praktis, artinya peneliti dapat mengakses bukti-bukti dan dokumen sejarah sesuai dengan kemampuannya.
Orisinil, artinya penelitian tersebut merupakan hasil pemikiran usaha dan dilakukan atas kehendak sendiri. Topik yang dipilih pun bisa menghasilkan pandangan lain terhadap suatu teori atau peristiwa sejarah.
b. Kedekatan Peneliti
Sebelum memulai penelitian sejarah, alangkah baiknya jika topik yang kamu pilih sudah kamu kuasai. Hal ini dikenal sebagai kedekatan intelektual yang berhubungan dengan kemampuan akademik. Tujuannya, agar hasil penelitian yang kamu lakukan benar-benar berkualitas dan dipercaya oleh pembaca.
Selain itu, topik penelitian sejarah juga harus mempunyai kedekatan emosional dengan penelitinya. Artinya, peneliti memiliki ketertarikan dan minat untuk menelaah isu yang dibahas. Semakin tinggi minat, semakin cepat penelitian tersebut selesai.
2. Heuristik
Kalau topiknya sudah ketemu, selanjutnya apalagi? Nah, tahap kedua penelitian sejarah adalah mendapatkan sumber dan bukti-bukti pendukung. Langkah ini disebut dengan heuristik.
Heuristik berasal dari kata Yunani ‘heuriskein’ yang artinya mencari atau menemukan. Jadi, dalam sejarah, heuristik merupakan tahap pencarian dan pengumpulan sumber mengenai masalah yang diteliti. Tujuannya agar peneliti bisa menghasilkan penelitian yang bermutu dengan informasi sebanyak-banyaknya.
Jenis dan Cara Memperoleh Sumber Sejarah
a. Sumber Tulisan
Sumber ini berbentuk naskah, arsip, buku, atau tulisan di prasasti. Kamu bisa mencarinya di Gedung Arsip Nasional, Perpustakaan Nasional, Museum, serta lembaga tertentu tergantung dari topik yang kamu bahas.
b. Sumber Lisan
Sumber ini diperoleh dari kesaksian pelaku atau saksi peristiwa di masa lalu. Kamu bisa mewawancarai mereka secara langsung atau via telepon. Akan tetapi, perlu sedikit usaha untuk mendapatkan sumber lisan karena tidak semua orang mau diwawancarai. Kamu harus bertanya dan mendapatkan persetujuan terlebih dahulu.
c. Sumber Benda
Pasti kamu sudah tahu dong sumber benda itu seperti apa? Yup, betul! Sumber benda dapat berwujud artefak dan fosil. Kamu bisa menemukannya di museum, cagar budaya, atau objek wisata bersejarah.
d. Sumber Audio, Visual, dan Audiovisual
Sumber ini berbentuk rekaman suara, rekaman gambar, dan barang-barang yang digunakan dalam peristiwa bersejarah. Misalnya, rekaman saat Presiden Soekarno membacakan teks proklamasi, video pernikahan Lady Diana dan Pangeran Charles di Inggris, serta benda-benda yang mereka gunakan seperti pakaian, aksesoris, hingga kendaraannya.
3. Verifikasi
Tahap ketiga yaitu verifikasi. Verifikasi adalah proses pemeriksaan terhadap keaslian dan kebenaran sumber sejarah. Tujuannya untuk menguji fakta sejarah dari sumber yang peneliti dapatkan.
Jenis Verifikasi
Ada dua jenis verifikasi dalam penelitian sejarah, yaitu kritik ekstern dan kritik intern.
a. Kritik Ekstern
Ekstern artinya berhubungan dengan fisik atau hal-hal dari luar. Di tahap ini, peneliti menguji keaslian sumber sejarah secara fisik dan bahan lewat pancaindera. Misalnya struktur batuan prasasti, warna kertas, ejaan yang digunakan dalam teks proklamasi, dan sebagainya.
b. Kritik Intern
Intern artinya dari dalam, atau berhubungan dengan informasi yang tercantum dalam isi sumber sejarah. Di tahap ini, peneliti menguji apakah informasi tersebut sesuai fakta atau justru sebaliknya. Misalnya, ketika mempunyai sumber berupa tulisan, peneliti bisa memeriksa keasliannya lewat kop surat, stempel, atau tanda tangan pihak-pihak yang bersangkutan.
4. Interpretasi
Interpretasi adalah tahap keempat penelitian sejarah. Peneliti memberikan penafsiran, pendapat, dan analisis dari fakta yang telah diperoleh dan diverifikasi. Fakta-fakta tadi akan dihubungkan hingga membentuk rangkaian peristiwa dan maknanya.
Kalau dipikir-pikir, interpretasi ini mirip kayak main puzzle, lho. Kita mencoba menyusun potongan-potongan puzzle sampai terlihat keseluruhan gambar aslinya.
Namun, perlu diperhatikan bahwa tahap interpretasi harus dilakukan secara selektif dan tidak melebar kemana-mana. Hanya fakta yang penting dan sesuai dengan topik yang bisa kamu interpretasikan.
Jenis Interpretasi
Pada penelitian sejarah, terdapat dua jenis interpretasi, yaitu Interpretasi Analisis dan Interpretasi Sintesis.
a. Interpretasi Analisis
Interpretasi analisis mengharuskan peneliti untuk menguraikan fakta-fakta sejarah. Misalnya, judul penelitian kita adalah “Perkembangan Partai Politik dalam Pemilu Indonesia tahun 1955-1971”. Setelah sumber diperoleh dan diverifikasi, kita bisa menguraikan jumlah partai, jumlah pemilih, serta tahun pelaksanaan Pemilu pada periode tersebut.
b. Interpretasi Sintesis
Sedangkan interpretasi sintesis, peneliti menghubungkan rangkaian peristiwa yang terjadi untuk memperoleh suatu kesimpulan. Contoh nih, pada tahun 1955 ada 29 partai yang berpartisipasi di Pemilu, kemudian pada tahun 1971 hanya ada 10 partai yang ikut. Artinya, jumlah peserta partai politik dari tahun ke tahun terus menurun.
5. Historiografi
Oke, kita sudah sampai di tahap terakhir penelitian sejarah yaitu Historiografi. Historia berasal dari kata ‘historia’ dan ‘grafein’ yang berarti penulisan sejarah. Kalau di tahap sebelumnya kita sudah menentukan, mencari, memeriksa, dan memaknai fakta sejarah, di tahap ini kita sudah bisa mulai menulis hasil penelitian.
Pada fase historiografi, peneliti menyusun penafsiran fakta dan menghubungkannya menjadi sebuah cerita sejarah. Nah, untuk menulis cerita sejarah, kamu bisa menggunakan 2 model penulisan, lho!
Model Penulisan Historiografi
a. Deskriptif Naratif
Model penulisan penelitian sejarah ini disesuaikan dengan urutan waktu kejadian atau kronologis. Jadi, untuk menuliskannya, kamu harus menggunakan cara berpikir diakronik.
b. Deskriptif Eksplanatif
Model penulisan penelitian sejarah ini bersifat analisis, detail, dan mendalam. Biasanya, tercantum unsur 5W + 1H, atau dalam Bahasa Indonesia yaitu Apa, Siapa, Dimana, Kapan, Mengapa, dan Bagaimana. Jadi, model deskriptif eksplanatif peneliti menggunakan cara berpikir sinkronik.
Kalau kamu sudah mengerti 5 tahapan di atas, sekarang kamu bisa deh memulai penelitian sendiri. Jangan lupa tetap perhatikan keaslian sumber dan bukti-bukti pendukungnya, ya!
A.Merkantilisme,
Renaissance, Reformasi Gereja, Revolusi Industri dan pengaruhnya bagi kehidupan bangsa
Indonesia dan bangsa lain di dunia
pada masa itu dan masa kini.
4.Merkantilisme
Merkantilisme merupakan teori
ekonomi yang menyatakan bahwa kesejahteraan sebuah negara hanya ditentukan oleh
banyaknya aset atau modal yang disimpan oleh negara yang bersangkutan, dan
bahwa besarnya volume perdagangan global sangat penting. Teori ini mengajarkan
bahwa pemerintahan suatu negara harus mencapai kesejahteraan dengan melakukan perlindungan
terhadap perekonomiannya. Dengan mendorong ekspor dan mengurangi impor. Ajaran
Merkantilisme ini dominan diajarkan di seluruh sekolah abad ke-16 sampai ke-18.
Merkantilisme ini kemudian
mendorong pemerintah untuk menguasai daerah lain yang akan dimanfaatkan sebagai
daerah monopoli perdagangannya. Politik merkantilisme melahirkan terbentuknya
persekutuan dagang masyarakat Eropa, seperti EIC di India dan VOC di Indonesia.
Berkat merkantilisme, Inggris bangkit sejalan dengan era penjelajahan samudera
untuk mencari daerah-daerah baru yang akan dijadikan daerah koloni. Begitu juga
dengan masyarakat Eropa lain seperti Belanda, Perancis dan Spanyol. Oleh karena
itu, dalam perkembangannya politik ekonomi merkantilisme telah menimbulkan
perebutan daerah koloni antar negara Eropa.
Sistem ekonomi Merkantilisme
mulai menghilang pada akhir abad ke 18, seiring munculnya teori ekonomi baru
oleh Adam Smith, yang kemudian diadopsi oleh Inggris.
Beberapa dampak
Merkantilisme bagi Indonesia
a.Kedatangan
Belanda ke Nusantara, yaitu dengan Pembentukan voc di batavia untuk menghindari
persaingan tidak sehat antar pedagang eropa. Selain itu VOC memiliki kekuatan
monopoli dengan kerajaan-kerajaan di nusantara. VOC berhak ikut campur dalam
urusan intern kerajaan.
b.Pemberlakuan
Sistem Sewa tanah oleh Raffles.Pendapatan negara pada masa pemerintahan Raffles
didapat dari pajak sewa tanah. Raffles berpandangan bahwa tanah merupakan milik
negara. Rakyat hanya memiliki hak untuk mengolahnya. Rakyat dibebaskan untuk
menanam apapun, asal pajak berjalan lancar. Akan tetapi sistem tersebut gagal diterapkan
setelah bertahun-tahun lamanya. Rakyat yang diberi kebebasan untuk menanam,
justru terjebak pada kebiasaan lama. Mereka menjual hasil panen kepada bupati,
bukan kepada pasar. Akhirnya sistem sewa tanah ini tidak berhasil, karena hanya
menguntungkan para tengkulak.
c.Stratifikasi
Sosial
Adapun stratifikasi sosial yang ditetapkan
pemerintah belanda:
·Golongan
1: Orang Belanda dan Orang Asing kulit putih
·Golongan
2: Orang timur Asing
·Golongan
3: Orang Pribumi
Pembedaan kelas sosial tersebut diikuti dengan
pembedaan hak dan kewajiban. Hal ini bertujuan untuk menjaga prestise
pemerintah kolonial dengan menciptakan superioritas orang kulit putih dan
inferioritas orang pribumi.
1. Renaissance
Middle Age merupakan zaman dimana Eropa sedang
mengalami masa suram. Berbagai kreativitas sangat diatur oleh gereja. Dominasai
gereja sangat kuat dalam berbagai aspek kehidupan. Agama Kristen sangat
mempengaruhi berbagai kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Seolah raja tidak
mempunyai kekuasaan, justru malah gereja lah yang mengatur pemerintahan.
Berbagai hal diberlakukan demi kepentingan gereja, tetapi hal-hal yang
merugikan gereka akan mendapat balasan yang sangat kejam. Contohnya, pembunuhan
Copernicus mengenai teori tata surya yang menyebutkan bahwa matahari pusat dari
tata surya, tetapi hal ini bertolak belakang dari gereja sehingga Copernicus
dibunuhnya.
Pemikiran manusia pada Abad Pertengahan ini mendapat
doktrinasi dari gereja. Hidup seseorang selalu dikaitkan dengan tujuan akhir
(ekstologi). Kehidupan manusia pada hakekatnya sudah ditentukan oleh Tuhan.
Maka tujuan hidup manusia adalah mencari keselamatan. Pemikiran tentang ilmu
pengetahuan banyak diarahkan kepada theology. Pemikiran filsafat berkembang
sehingga lahir filsafat scholastikyaitu suatu pemikiran filsafat yang
dilandasi pada agama dan untuk alat pembenaran agama. Oleh karena itu
disebut Dark Age atau Zaman Kegelapan.
Dengan adanya berbagai pembatasan yang dilakukan pihak
pemerintah atas saran dari gereja maka timbulah sebuah gerakan kultural, pada
awalnya merupakan pembaharuan di bidang kejiwaan, kemasyarakatan, dan
kegerejaan di Italia pada pertengahan abad XIV. Sebelum gereja mempunyai peran
penting dalam pemerintahan, golongan ksatria hidup dalam kemewahan, kemegahan,
keperkasaan dan kemasyuran. Namun, ketika dominasi gereja mulai berpengaruh
maka hal seperti itu tidak mereka peroleh sehingga timbullah semangat
renaissance.
Menurut Ernst Gombrich munculnya renaissance sebagai
suatu gerak kembali di dalam seni, artinya bahwa renaissance tidak dipengaruhi
oleh ide-ide baru. Misalnya, gerakan Pra-Raphaelite atau Fauvist merupakan
gerakan kesederhanaan primitif setelah kekayaan gaya Gotik Internasional yang
penuh hiasan.
Menurut Prancis Michel De Certeau renaissance muncul
karena bubarnya jaringan-jaringan sosial lama dan pertumbuhan elite baru yang
terspesialisasi sehingga gereja berusaha untuk kembali mendesak kendali dan
manyatukan kembali masyarakat lewat pemakaian berbagai teknik visual-dengan
cara-cara mengadakan pameran untuk mengilhami kepercayaan, khotbah-khotbah
bertarget dengan menggunakan citra-citra dan teladan-teladan dan sebagainya
yang diambil dari pemikiran budaya klasik sehingga dapat mempersatukan kembali
gereja yang terpecah-belah akibat skisma (perang agama).
Renaissance muncul dari timbulnya kota-kota dagang yang
makmur akibat perdagangan mengubah perasaan pesimistis (zaman Abad
Pertengahan) menjadi optimistis. Hal ini juga menyebabkan dihapuskannya
system stratifikasi sosial masyarakat agraris yang feodalistik. Maka kebebasan
untuk melepaskan diri dari ikatan feodal menjadi masyarakat yang bebas.
Termasuk kebebasan untuk melepaskan diri dari ikatan agama sehingga menemukan
dirinya sendiri dan menjadi focus kemajuan. Antroposentrisme menjadi
pandangan hidup dengan humanisme menjadi pegangan sehari-hari. Selain
itu adanya dukungan dari keluarga saudagar kaya semakin menggelorakan
semangat Renaissance sehingga menyebar ke seluruh Italia dan Eropa.
Renaissance merupakan titik awal dari sebuah peradaban
modern di Eropa. Essensi dari semangat Renaissance salah satunya adalah
pandangan manusia bukan hanya memikirkan nasib di akhirat seperti semangat Abad
Tengah, tetapi mereka harus memikirkan hidupnya di dunia ini. Renaissance menjadikan
manusia lahir ke dunia untuk mengolah, menyempurnakan dan menikmati dunia ini
baru setelah itu menengadah ke surga. Nasib manusia di tangan manusia,
penderitaan, kesengsaraan dan kenistaan di dunia bukanlah takdir Allah
melainkan suatu keadaan yang dapat diperbaiki dan diatasi oleh kekuatan manusia
dengan akal budi, otonomi dan bakat-baktnya. Manusia bukan budak melainkan
majikan atas dirinya. Inilah semangat humanis, semangat manusia baru yang oleh
Cicero dikatakan dapat dipelajari melalui bidang sastra, filsafat, retorika,
sejarah dan hukum.
Dengan semakin kuatnya Renaissance sekularisasi
berjalan makin kuat. Hal ini menyebabkan agama semakin diremehkan bahkan kadang
digunakan untuk kepentingan sekulerisasi itu sendiri. Semboyan
mereka “religion was not highest expression of human values”. Bahkan
salah seorang yang dilukiskan sebagai manusia ideal renaissance Leon Batista
Alberti (1404-1472), secara tegas berani mengatakan “Man can do all things if
they will”. Renaissance mengajarkan kepada manusia untuk memanfaatkan kemampuan
dan pengetahuannya bagi pelayanan kepada sesama. Manusia hendaknya menjalani
kehidupan secara aktif memikirkan kepentingan umum bukan hidup bersenang-senang
dalam belenggu moral dan ilmu pengetahuan di menara gading. Manusia harus
berperan aktif dalam kehidupan, bukan sifat pasif seraya pasrah pada takdir.
Namun, manusia menjadi pusat segala hal dalam kehidupan atau Antoposentrisme.
Manusia renaissance harus berani memuji dirinya
sendiri, mengutamakan kemampuannya dalam berfikir dan bertindak secara
bertanggung jawab, menghasilkan karya seni dan mengarahkan nasibnya kepada
sesama.Keinginan manusia untuk menonjolkan diri baik dari keindahan jasmani
maupun kemampuan intelektual-intelektualnya. Keinginannya itu dituangkan dalam
berbagai karya seni sastra, seni lukis, seni pahat, seni music dan lain-lain.
Ekspresi daya kemampuan manusia terus berkembang sampai saat ini sehingga di
zaman modern ini pun tidak ada lagi segi kehidupan manusia yang tidak
ditonjolka
Zaman ini muncul seniman dan karya-karya yang lainnya
misalnya leonardo da vinci dengan lukisannya yang termashur
a.Niccolo Machiavelli(1469-1527)
Filosof politik Italia, Niccolo Machiavelli lahir tahun
1469 di Florence, Italia. Ayahnya, seorang ahli hukum. Pada usia 29 tahun
Machiavelli memperoleh kedudukan tinggi di pemerintahan sipil Florence. Selama
empat belas tahun sesudah itu dia mengabdi kepada Republik Florentine dan
terlibat dalam berbagai missi diplomatik atas namanya, melakukan perjalanan ke
Perancis, Jerman, dan di dalam negeri Italia. Hasil karyanya yang paling
masyhur adalah The Prince, (Sang Pangeran) ditulis tahun 1513, dan The
Discourses upon the First Ten Books of Titus Livius (Pembicaraan terhadap
sepuluh buku pertama Titus Livius). Diantara karya-karya lainnya adalah The art
of war (seni berperang), A History of Florence (sejarah Florence) dan La
Mandragola (suatu drama yang bagus, kadang-kadang masih dipanggungkan orang).
Tetapi, karya pokoknya yang terkenal adalah The Prince (Sang Pangeran), mungkin
yang paling brilian yang pernah ditulisnya dan memang paling mudah dibaca dari
semua tulisan filosofis. Machiavelli kawin dan punya enam anak. Dia meninggal
dunia tahun 1527 pada umur lima puluh delapan.
Dampak Renaissance
Renaissance telah memberikan dampak yang nyata dalam bidang Politik, Ekonomi,
Sosial, dan Budaya terutama bagi Eropa, diantaranya:
a.Kondisi
politik
Raja yang secara teoritis merupakan pusat kekuasaan
politik dalam negara, kenyataannya hanya menjadi juru damai. Kekuasaan politik
ada pada kelompok bangsawan dan kelompok gereja. Keduanya memiliki pasukan
militer yang sewaktu-waktu dapat digunakan untuk melancarkan ambisinya.
Adakalanya kekuatan militer kaum bangsawan dan kaum gereja lebih kuat dari
kekuatan militer milik raja. Munculnya kaum borjuis sebagai kelompok baru yang
kaya dan mampu menyaingi kaum bangsawan. Kelompok borjuis yang menguasai
perdagangan tidak suka pada kelompok bangsawan dan gereja, sehingga hanya mau
membayar pajak kepada raja. Akhirnya raja kembali memegang kekuasaan politik
tertinggi yang ditaati perintahnya oleh seluruh lapisan masyarakat.
b.Kondisi
ekonomi
Berlaku sistem ekonomi tertutup, yang menguasai
perekonomian hanya golongan penguasa. Kondisi-kondisi di atas menyebabkan
masyarakat Eropa terkungkung dan tidak memiliki harga diri yang layak sebagai
manusia. Oleh karena itu timbullah upaya-upaya untuk keluar dari keadaan
tersebut. Masyarakat berlomba-lomba memasuki kawasan kota dagang dan kota
industri, menjadi buruh dengan tujuan berusaha merubah kehidupan ekonomi ke
arah yang lebih baik. Petani-petani yang pada Abad Pertengahan setia
mengerjakan tanah para bangswan feodal, kini hilang berganti dengan golongan
masyarakat baru yang disebut buruh pabrik.
c.Kondisi
sosial
Saat itu
kehidupan masyarakat Eropa sangat terikat pada doktrin gereja. Segala kegiatan
kehidupan ditujukan untuk akhirat. Masyarakat kehilangan kebebasan untuk
menentukan pribadinya, dan kehilangan harga dirinya. Kehidupan manusia tidak
tenteram karena senantiasa diintip oleh intelijen gereja, sehingga menimbulkan
sikap saling mencurigai dalam masyarakat. Akhirnya masyarakat Eropa yang tidak
lagi mau terbelenggu oleh ikatan gereja. Mereka memalingkan diri dari kehidupan
akhirat kepada keduniaan sehingga pengaruh gereja merosot. Kehidupan materialistis
semakin berkembang mendesak kehidupan keagamaan.
d.Kondisi
budaya
Terjadi
pembatasan kebebasan seni dalam arti bahwa seni hanya tentang tokoh-tokoh Injil
dan kehebatan gereja. Semua kreasi seni ditujukan kepada kehidupan akhirat
sehingga budaya tidak berkembang. Demikian pula dalam bidang ilmu pengetahuan
karena segala kebenaran hanya kebenaran gereja. Namun pasca Renaissance
naskah-naskah ilmu pengetahuan Yunani dan Romawi Kuno dijumpai kembali oleh
masyarakat Barat, dibawa oleh ilmuwan yang lari dari Konstantinopel ke Italia
setelah Konstantinopel jatuh ke tangan Turki. Selain itu pada era
Renaissance telah memunculkan tokoh-tokoh yang berkarya kembali dalam
bidang seni.
e.Dampak
Renaissance terhadap Indonesia:
Pengaruh langsung untuk Indonesia mungkin tidak ada
karena pada saat itu Renaissance hanya berkembang di wilayah eropa saja. Akan
tetapi dampak tidak langsung Indonesia mendapatkannya, karena secara
tidak langsung Belanda, Portugis dan Negara Eropa lainnya yang awalnya diekang
oleh doktrin bahwa bumi dan lautan dikelilingi neraka, mulai membantahnya
dan mengadakan pelayaran sekaligus menyebarkan seni rupa modern di
Indonesia. Hal itu bisa di lihat dari bangunan-bangunan yang di bangun oleh
mereka pasti memiliki gaya eropa klasik. Intinya Renaissance tidaklah berdampak
langsung bagi perkembangan seni rupa di Indonesia tetapi memiliki dampak jangka
panjang.
Aufklärung, Masa Pencerahan di Eropa | Sejarah Kelas 11
Squad, masih ingat tentang peristiwa Renaissance? Jika masa Renaissance merupakan peralihan dari zaman pertengahan ke zaman modern dan dianggap sebagai masa peremajaan bangsa, maka peristiwa Aufklärung merupakan masa pendewasaan bagi Bangsa Eropa. Meski keduanya sama-sama membawa pencerahan bagi penduduk Eropa, tapi ternyata dua peristiwa ini merupakan peristiwa yang berbeda, lho.
Istilah Aufklärung berasal dari Bahasa Jerman yang berarti “pencerahan”, yang dalam Bahasa Inggris dikenal dengan enlightenment. Peristiwa ini terjadi pada 1695-1815. Di masa ini manusia optimis dengan kemampuannya untuk menciptakan kemajuan yang dapat memberikan cahaya baru, dalam hal ini adalah kemajuan ilmu pengetahuan. Kemudian banyak muncul pikiran-pikiran filosofis dari Eropa.
Meski sama-sama disebut pencerahan, ternyata Renaissance dan Aufklärung berbeda, Squad. Di Masa Renaissance, kesadaran akan kemampuan akal manusia sudah berkembang, tetapi hal tersebut hanya menghasilkan kemajuan di bidang humaniora, filsafat, politik, seni, sastra serta hukum. Perubahan dalam bidang ekonomi belum mampu dikembangkan demi kesejahteraan manusia.
Melalui slogan Aufklärung, “Sapere Aude!” yang berarti “Beranilah Berpikir Sendiri”, Immanuel Kant, filsuf asal Jerman mengajak orang-orang untuk semakin berani dan bebas menggunakan akalnya. Menurut Kant, manusia masih belum yakin akan kemampuan akalnya untuk menciptakan kemajuan dan kebahagiaan di dunia. Jika manusia belum mampu melakukan hal tersebut, itu berarti tanda bahwa manusia tersebut belum dewasa. Hayo, kalau begitu kamu sudah dewasa belum nih?
Immanuel Kant (Sumber: thegreatthinkers.org).
Di satu sisi, tentunya gerakan ini tampak bagus karena membawa kemajuan. Meski begitu, semakin tingginya keyakinan manusia terhadap kemampuannya sendiri mengakibatkan banyak orang berpendapat bahwa peran Tuhan dalam kehidupan berhenti setelah proses penciptaan alam semesta dan segala isinya selesai. Pandangan tersebut nantinya dikenal dengan istilah deisme.
Inggris
a) Francis Bacon
Francis Bacon merupakan tokoh awal dalam Masa Aufklärung di Inggris. Menurut Bacon, manusia harus berusaha sendiri untuk memecahkan masalah-masalah hidupnya dan tidak terus menerus menggantungkan diri pada Tuhan. Caranya adalah melalui penguasaan terhadap ilmu pengetahuan. Gagasannya yang terkenal adalah “knowledge is power”. Artinya, ilmu pengetahuan merupakan jalan yang dapat dipergunakan untuk kemajuan kehidupan manusia.
Francis Bacon (Sumber: biography.com).
b) John Locke
John Locke dianggap sebagai “Bapak Liberalisme”. Pemikirannya tercermin dalam karyanya Two Treatise on Government (1689), yang menjelaskan bahwa hidup manusia diatur oleh hukum kodrat dan tiap individu memiliki hak-hak yang tak boleh dirampas darinya (unalienable rights). Locke juga membahas tentang pemerintahan suatu negara harus dibatasi oleh hukum-hukum tertentu agar pemerintah tidak merampas hak-hak individu. Jadi, keberadaan negara berfungsi untuk menjamin keamanan seluruh masyarakatnya.
John Locke, pemikirannya tentu cocok untuk kamu yang menjunjung tinggi HAM. (Sumber: jacobinmag.com).
c) Isaac Newton
Nama ini pasti sudah nggak asing untuk kalian ya, Squad. Dirinya terkenal karena penjabaran hukum gravitasi. Newton berhasil menunjukkan bahwa gerak benda di bumi dan benda luar angkasa lainnya diatur oleh sekumpulan hukum alam yang sama. Karyanya yang terbesar dan paling berpengaruh milikinya adalah Phillosophie Naturalis Principia Mathematica (1687). Pemikirannya tentang fisika ini ternyata membawa wajah baru dalam ilmu pengetahuan, sehingga dirinya merupakan tokoh yang berpengaruh di masa ini.
Ilustrasi Isaac Newton saat melihat apel yang jatuh dari pohonnya (Sumber: etc.usf.edu).
Perancis
a) Jean-Jacques Rousseau
Kamu pasti pernah mendengar namanya dalam pelajaran Sosiologi atau Kewarganegaraan kan? Nah, J.J. Rousseau merupakan filsuf Perancis yang juga muncul pada Masa Aufklärung. Pemikiran terbesarnya menyatakan bahwa negara yang baik adalah negara yang mencerminkan kedaulatan rakyat. Jika negara memiliki kedaulatan rakyat, individu dapat mempertahankan kebebasannya. Atas pemikirannya tersebut, Rousseau dipandang sebagai pendukung demokrasi yang paling penting.
J. J. Rousseau (Sumber: thefamouspeople.com).
b) Voltaire
Voltaire merupakan penulis dan filsuf Perancis yang dikenal lewat tulisan filsafatnya yang tajam, dukungannya terhadap hak-hak manusia, kebebasan sipil, kebebasan beragama hingga hak mendapatkan pengadilan yang layak. Voltaire adalah pendukung utama terhadap reformasi sosial. Reformasi sosial diperlukan oleh Perancis untuk memperbaiki kehidupan rakyat dan menghilangkan tindakan sewenang-wenang yang dilakukan kalangan gereja atau bangsawan terhadap rakyat biasa.
Voltaire (Sumber: oceansbridge.com).
Banyak hal penting yang terjadi di dunia karena faktor masa Aufklärung ini. Berbagai wilayah di dunia, mulai dari masyarakat hingga kehidupannya pun banyak yang terpengaruh oleh adanya masa Aufklärung. Apa saja pengaruhnya?
Adanya masa Aufklärung yang merupakan masa pencerahan ini berfokus pada kemajuan dan peningkatan akal manusia dan menjadikan manusia dapat berpikir maju seperti sekarang ini. Meski begitu, kemajuan ini tentunya perlu dijadikan sebagai sesuatu yang positif, Squad, bukannya menjadi hal yang negatif. Seru kan materi ini Squad? Selain baca di artikel ini, kamu juga bisa belajar materinya lewat video animasi di ruangbelajar.
b.Dilakukannya penyogokan oleh
pemuka agama kepada petinggi gereja agar mereka memperoleh kedudukan sosial
keagamaaan yang tinggi.
c.Paus sebagai bapak suci
berperilaku amoral yang menyangkut hubungannya dengan wanita seperti Alexander
VI yang memiliki 8 anak haram dari hasil hubungannya dengan wanita simapannya.
e.Adanya penyimpangan terhadap acara
sakramen suci atau ritus pemujaaan terhadap benda-benda keramat atau
tokoh-tokoh suci yang nantinya akan menimbulkan takhayul dan mitologisasi yang
tidak masuk akal, seperti para pastor yang semata-mata merupakan manusia yang
memiliki sifat yang sama dengan yang lainnya menganggap dirinya keramat.
f.Korupsi atas nama negara
g.Pajak-pajak yang memberatkan
karena ambisi kekuasaan kaum bangsawan lokal
h.Kebangkitan nasionalisme di Eropa
i.Perkembangan kapitalisme dan
krisis-krisis ekonomi dikawasan imperium Roma.
Tokoh reformasi gereja
a.Martin Luther (1483-1546)
Luther lahir pada tanggal 10 November 1483 di Eisleben, Jerman. Seorang
tokoh yang paling berpengaruh dalam gereja bahkan di kalangan Protestan setelah
era Reformasi di mana Luther merupakan salah satu tokoh utamanya. Luther
membawa pembaharuan besar di Jerman. Dalam persembunyian dia menerjemahkan
Kitab Suci Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jerman. Luther membawa pembaharuan
besar di Jerman pada masa itu. Dalam persembunyian dia menerjemahkan
Kitab Suci Perjanjian Baru ke dalam bahasa Jerman. Ini sangat penting sebagai
sebuah pintu bagi perubahan dan kemerdekaan berpikir. Selama 1500-an tahun,
yang berhak membaca Kitab Suci hanya segelintir orang dan yang berhak
menafsirkannya hanya para petinggi gereja seperti Paus di Roma. Penerjemahan
Kitab Suci ke dalam bahasa Jerman juga membawa pembaharuan tidak hanya dalam
kehidupan beragama tetapi juga dalam bidang non-agamis seperti seni dan budaya.
b.Erasmus Desiderius Roterodamus
Adalah seorang humanis yang terkemuka dan merupakan perintis Reformasi.
Karyanya edisi perjanjian Baru diterbitkan pada tahun 1516 dalam Bahasa Yunani
mendorong reformasi Luther. Erasmus dilahirkan 27 oktober 1466. Ia tinggal
dalam biara Augustinus selama 5 tahun (1486-1491).[2]Pada waktu selama itu ia menulis sejumlah
puisi dan karangan prosa dan lain. Dalam tulisannya sudah tampak kritiknya pada
kekuasaan gereja.Erasmus adalah seorang tokoh yang berjasa bagi gerakan
reformasi gereja yang dipimpin oleh Luther. Luther menggunakan edisi baru
bahasa Yunani yang dikeluarkan oleh Erasamus. Erasamus juga mengeritik
keburukan-keburukan yang ada di gereja dan menasahati paus supaya mengambil
tindakan-tindakan pembaharuan gereja. Hingga tahun 1524 Erasamus bersimpati
pada reformasi Luther.
c.Zwingli
Huldrych (atau Ulrich) Zwingli lahir di Swiss, 1
Januari 1484 adalah pemimpin Reformasi Swiss, dan
pendiri Gereja Reformasi Swiss.[3] Reformasi Zwingli didukung oleh
pemerintah dan penduduk Zürich, dan menyebabkan perubahan-perubahan
penting dalam kehidupan masyarakat, dan urusan-urusan negara di Zürich. Gerakan
ini, khususnya, dikenal karena tanpa mengenal kasihan menganiaya
kaum Anabaptis dan para pengikut Kristus lainnya yang mengambil sikap
tidak melawan. Reformasi menyebar dari Zürich ke lima kanton Swiss
lainnya, sementara yang lima lainnya berpegang kuat pada pandangan
iman Gereja Katolik. Zwingli terbunuh di Kappel am Albis, dalam
sebuah pertempuran melawan kanton-kanton Katolik.
d.John Calvin (1509-1564)
Yohanes Calvin atau John Calvin lahir
di Noyon, Kerajaan Perancis, 10 Juli 1509 Swiss. Ia
adalah teolog Kristen terkemuka pada masa Reformasi
Protestan yang berasal dari Perancis.[4] Seorang pemimpin Reformasi Gerakan
Gereja di Swiss. Merupakan generasi kedua dalam jajaran pelopor dan pemimpin
reformasi gereja abad ke-16 peranannya sangat besar dalam gereja-gereja
reformatoris. Gereja-gereja yang mengikuti ajaran tata gereja yang digariskan
Calvin tersebar. Dikenal dengan gereja Calvinisme. Sebagai pelopor
Reformasi Gereja, ia menyebarkan gagasan-gagasannya tentang
bagaimana Gereja Reformasi yang benar itu ke banyak bagian
Eropa. Calvinisme menjadi sistem teologi dari mayoritas Gereja
Kristen di Skotlandia, Belanda, dan bagian-bagian tertentu
dari Jerman dan berpengaruh
di Perancis, Hongaria khususnya
di Transilvania dan Polandia.
Dampak Reformasi Gereja
Dampak dari adanya Gerakan Reformasi Protestan dibawah
Luther dan Calvin adalah: pertama, dampak sosial dan politik terhadap
Eropa dan negara-negara Barat pada umumnya. Reformasi ini menimbulkan Western
Christendom sehingga munculnya negara-negara nasional kecil tanpa memiliki
pusat kekuasaan atau gembala politik seperti lembaga Kepausan Roma.
Menumbuhkan benih-benih demokratisasi politik, kesadaran individual akan
pentingnya hak-hak politik, kebebasan individu. Sehingga menjadi dasar
timbulnya gerakan-gerakan demokratisasi yang dan anti kekuasaan totaliter dan
keberanian rakyat untuk selalu melakukan kontrol terhadap kekuasaan.
Tetapi dengan adanya gerakan reformasi Protestan ini
juga lahirnya kekuasaan absolut di Eropa. Banyaknya pertikaian antara
Calvinisme dengan katolik, peperangan saudara dan penghancuran karya-karya
seni, patung, lukisan yang berbau katolisisme. Reformasi juga haris bertanggung
jawab atas terjadinya pembantaian massal dalam peristiwa berdarah pada malam
St. Bartholomeus. Di Belanda pun terjadi pemberontakan petani yang menolak
membayar pajak dan akhirnya oleh pangeran Philip mereka semua dibantai. Dan
pengikut Protestan dianggap pengkhianat dan selama enam tahun terjadi teror dan
pembunuhan terhadap kaum protestan.
Kedua, Reformasi juga mengakibatkan terbelahnya
agama Kristen menjadi sekte-sekte kecil; Lutherisme, Calvinisme, Anglicanisme,
Quakerisme, Katholikisme. Meskipun ditunjau dari segi doktrin-doktrin
fundamentalnya sekte-sekte itu tidak memiliki prinsip yang berbeda, tetapi
timbulnya hal tersebut menyebabkan keretakan serius dalam agama kristen. Akibat
adanya sekte-sekte ini, Eropa terbelah secara keagamaan; Jerman Utara dan
negara-negara Skandinavia (Swedia dan Norwegia), menganut Lutheranisme;
Skotlandia, Belanda, Switzerland dan Prancis menganut Calvinisme dan
negara-negara Eropa lainnya seperti Spanyol dan Italia menganut katolisisme
(Ortodok